Showing posts with label Go Green. Show all posts
Showing posts with label Go Green. Show all posts

Sunday, December 2, 2012

Lumut Bisa Dirubah Jadi Minyak Mentah

Berbagai upaya mencari sumber energi baru dilakukan mengingat ancaman makin berkurangnya cadangan minyak bumi. Bila alam memerlukan jutaan tahun untuk mengubah benda organik kuno menjadi minyak mentah, maka para peneliti mencari cara agar proses itu menjadi instan.

 
Sebenarnya sudah banyak dikembangkan cara mendapatkan biofuel atau bahan bakar biologis. Salah satu terobosan mungkin datang dari para insinyur kimia di Universitas Michigan. Karena mereka berhasil mengubah lumut jadi minyak mentah hanya dalam waktu 1 menit saja!

Dikutip dari VOA, Phil Savage, profesor yang memimpin penelitian mengatakan lumut yang diuraikan tidak hanya menghasilkan minyak, tetapi juga gula dan protein yang dapat digunakan untuk energi bentuk lain.

Reaksi waktu singkat yang dibutuhkan untuk menciptakan biocrude atau minyak mentah biologis, dan ke-efisienan proses tersebut dapat membantu memotong ukuran dan biaya reaktor lumut-ke-energi, dan Universitas Michigan berharap untuk menyuling dan mengkomersialkan teknologi itu.

Profesor Savage yakin biocrude lumut dapat menjadi energi biofuel alternatif yang menarik yang diambil dari jagung dan biomassa lain. Ia mengatakan bahwa sekalipun mobil sedang bergerak ke arah sumber tenaga alternatif seperti dinamo listrik dan cell hidrogen, mesin pesawat terbang akan membutuhkan bahan bakar cair untuk jangka waktu yang lama ke depan, dan biofuel lumut dapat memenuhi kebutuhan tersebut.




 
Sumber:
voaindonesia

Friday, November 23, 2012

Prestasi Indonesia: Pembangkit Tenaga Listrik dari Sampah

Ada harapan bagi bangsa ini untuk mengelola sampah menjadi energi yang berguna buat masyarakat banyak. Sampah kini bisa berguna menjadi tenaga listrik.
 lembagaenergihijau
Bambang Sudarmanta, dosen Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) yang jadi penggagasnya. Idenya berawal ketika melihat banyaknya tumpukan sampah di sekitar kampus ITS.

Melihat kondisi itu, tercetuslah ide untuk membuat pembangkit listrik bertenaga sampah, agar lingkungan di kampus ITS tetap bersih, bebas dari sampah. Guna mewujudkan mimpinya, sehari-hari waktunya dihabiskan  dalam rumah kompos kampus ITS Surabaya.

Bagaimana proses kerjanya?

Proses pengolahan sampah untuk menjadi energi listrik sendiri melalui program pengolahan sampah di ITS akan dilakukan dengan tiga cara, yakni pembakaran, gasifikasi dan fermentasi.

Pada proses pembakaran, sampah yang telah dipilah akan dikelompokan dalam beberapa kategori. Lalu,  panas dari pembakaran - hingga mencapai 600 bar - tersebut dialirkan ke turbin untuk menggerakan generator dan menghasilkan listrik. Sampah anorganik yang tidak bernilai ekonomis akan dibakar dalam insenerator dan dimanfaatkan untuk memanaskan ketel.


 
 voaindonesia.com
Cara lain yang bisa dilakukan adalah dengan metode gasifikasi. Metode ini berbeda dengan metode sebelumnya karena tidak dilakukan pembakaran. Dalam metode ini, sampah yang berupa biomassa akan diubah menjadi synthetic gas yang kemudian akan dimurnikan kembali. Gas yang telah dimurnikan tersebut akan digunakan sebagai bahan bakar mesin diesel atau mesin bensin.

Selain dua cara tersebut, Bambang dan timnya juga telah mengembangkan metode lain yakni metode fermentasi. Diakui olehnya, metode ini belum pernah diterapkan pada sampah.

Untuk 4 sampai 6 jam beroperasinya, alat pembangkit listrik tenaga sampah ini, dapat menghasilkan energi listrik sebesar 2 kilo watt dan listrik tersebut dapat langsung digunakan dan juga bisa disimpan dalam baterai atau aki (accu) untuk penerangan malam hari.

"Banyak sampah yang menumpuk, kami bakar kemudian panasnya dialirkan untuk menggerakkan generator, " kata dosen bergelar doktor tersebut.

Rencana ke depan, listrik yang dihasilkan oleh pembangkit listrik tenaga sampah ITS ini, akan digunakan untuk sumber energi lampu di kawasan kampus ITS.

Selama pembuatan alat ini, Bambang sudah menghabiskan dana hingga Rp. 200 juta. Pastinya, dana sebesar itu tidak berarti dibanding hasilnya, pemanfaatan sampah menjadi tenaga listrik yang berguna bagi orang banyak.
Sumber:
okezone

Friday, November 9, 2012

KFC Perusak Hutan Indonesia?

Setiap membeli ayam goreng KFC dalam jumlah besar, biasanya menggunakan wadah ember besar khas KFC. Tahukah kamu bahwa kelompok pecinta lingkungan Greenpeace mengklaim kemasan tersebut jadi penyebab hancurnya hutan di Indonesia?
 

 
Seperti dilansir Daily Mail, Senin (28/05/2012), klaim Greenpeace diungkapkan setelah sebelumnya mereka melakukan penelitian secara independen dan mandiri terhadap kemasan berbahan dasar kertas yang dipakai KFC di tiga negara, yaitu China, Indonesia dan Inggris.

Para peneliti dari Greenpeace melakukan uji coba selama dua tahun dengan cara mengambil berbagai sampel yang digunakan oleh restoran KFC, mulai dari gelas, kardus, bungkus kentang goreng, tisu dan wadah. Hasilnya mereka menemukan kandungan serat yang digunakan berasal dari hutan tropis di Indonesia.

Dalam laporannya, Greenpeace menyebut perusahaan raksasa Asia Pulp and Paper (APP) menjadi biang keladi kerusakan yang terjadi karena mereka memasok kertas kepada perusahaan induk KFC, Yum! Brands.

Selama ini ladang terbesar yang dimiliki oleh APP berada di Indonesia, atau lebih tepatnya di kepulauan Sumatera. Menurut laporan yang dilansir oleh Global Forest Watch, ada sekitar 5 juta hektar area hutan yang menghilang setiap tahun akibat penebangan yang dilakukan oleh perusahaan tersebut.




Fakta ini jelas menyebabkan rusaknya lingkungan dan terancamnya habitat spesies langka yang ada di sana, termasuk di dalamnya Macan Sumatera statusnya diambang kepunahan.

Bukti lain yang disampaikan oleh Greenpeace adalah nama perusahaan yang ada dalam kertas tisu yang digunakan oleh KFC. Dalam kertas itu terdapat nama PT. Pindo Deli, yang diklaim sebagai kepanjangan tangan dari perusahaan APP.

Menanggapi hal ini, pihak KFC di Inggris dan Irlandia menolak tuduhan tersebut. Mereka menyebut tidak menggunakan bungkus produk dari perusahaan APP. Sementara itu, pihak APP juga memberikan sangkalan yang sama terhadap tuduhan itu. Mereka mengatakan produk olahan berbahan dasar kertas itu tidak berasal dari Indonesia.
 
 
 
Sumber:
memobee.com

Saturday, September 29, 2012

Kondisi Laut Sedunia Semakin Memprihatinkan

Pemanasan global akibat ulah manusia semakin mengancam kehidupan di bumi ini. Laut, yang meliputi sekitar 75% muka bumi dari tahun ke tahun menunjukkan reaksi karena kehancuran lingkungan.

activistpost.com


Menurut konsultan Blue Planet BBC Profesor Callum Roberts, mulai dari paus hingga plankton, vitalitas laut berada dalam bahaya serius. Selama 30 tahun terakhir, tiga perempat megafauna laut dunia hilang dan seperempat karang mati.

Di Eropa utara, stok ikan berkurang hingga 99%. European Commission juga memperingatkan, spesies ikan cod, hake dan makarel akan menghilang dalam satu dekade mendatang.

“Laut berubah drastis 30 tahun terakhir di semua sejarah manusia. Dalam 40-50 tahun lagi, laut akan menjadi zona mati yang tak ada makhluk hidup di dalamnya,” katanya.

Kapal pukat harimau, jaring listrik dan jaring yang lebih besar menjadi sumber ancaman itu.

“Untuk mencegah hal tersebut, kita bisa mulai hanya memakan ikan yang bisa berkelanjutan. Mulai mendaur plastik dan mengurangi penggunaan fosfat,” papar Callum Roberts lagi.


 topnews.in

Sementara, menurut National Research Council AS, peningkatan ketinggian air laut ini meningkatkan risiko banjir dan kerusakan akibat badai, erosi serta hancurnya lahan basah. Meningkatnya ketinggian laut telah lama dianggap sebagai konsekuensi perubahan iklim.

Seperti dikutip StraitsTimes, laporan meramalkan, pada tahun 2100, pesisir barat AS mulai dari batas Mexico hingga Cape Mendocino akan meningkat. Parahnya peningkatan yang terjadi lebih tinggi dari proyeksi yang ada sebelumnya diramalkan meningkat 50-140cm.

Bisa ditebak, dampaknya tidak hanya dirasakan di Amerika saja. Negara kita sebagai negara kepulauan mengalami ancaman lebih besar lagi. Hmmm..... 60 - 80 tahun mendatang, apakah Indonesia masih ada?




[Dari berbagai sumber]